Senin, 13 September 2010

KONTRAK FRANCHISE (WARALABA)


Asas Hukum Kontrak Umum dan Islam

Dalam melakukan perjanjian atau kontrak, selain harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada, diharuskan juga mengikuti asas-asas dalam perjanjian yang ada. Secara umum , asas tersebut adalah :
1. asas kebebasan berkontrak, yang diatur dalam pasal 1338 KUHPer.
2. Asas kesepakatan atau konsensual
3. Asas itikad baik
4. Asas kekuatan mengikat ( pacta sunt servanda )
5. Asas berlakunya perjanjian
6. Asas kepatutan dan kebiasaan

Dalam perkembangan perekonomian dewasa ini, pengaruh Islam dalam perkembangan perekonomian tidak dapat dipandang sebelah mata. Islam yang merupakan agama yang lengkap dan sempurna mengatur kehidupan umatnya secara kompleks. Baik dari peribadatan hingga urusan kenegaraan dan perekonomian.

Dalam hal perekonomian Islam memiliki ketentuan tersendiri bagi umatnya, yang bersumber pada Al-Qur’an dan As sunnah.

Asas dalam perikatan Islam adalah :
1. Asas ilahiyyah
2. Asas kebebasan
3. Asas persamaan atau penyetaraan
4. Asas keadilan
5. Asas kerelaan
6. Asas kejujuran dan kebenaran
7. Asas tertulis


Bentuk dan substansi (klausul) kontrak franchise

Lahirnya suatu kontrak menimbulkan suatu hubungan hukum perikatan yang berupa hak dan kewajiban. Pemenuhan hak dan kewajiban itulah yang menjadi akibat hukum dari suatu kontrak. Dengan kata lain, akibat hukum kontrak sebenarnya adalah pelaksanaan dari isi kontrak itu sendiri. Pasal 1339 KUHPer menyatakan bahwa suatu kontrak tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan dalam kontrak tersebut, tetapi juga segala sesuatu yang menurut sifat kontrak diharuskan atau diwajibkan oleh kepatutan, kebiasaan dan undang-undang.

Tentang hak dan kewajiban para pihak dalam kontrak tertuang dalam isi perjanjian yang disepakati kedua belah pihak. Dalam pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1997 tantang waralaba dan Pasal 2 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 259/MPP/Kep/7/1997 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Waralaba, telah ditentukan bahwa bentuk perjanjian waralaba adalah dalam bentuk tertulis . Perjanjian ini dibuat dengan bahasa Indonesia dan berlaku di dalamnya hukum Indonesia. Salim menyatakan bahwa yang harus disampaikan oleh pemilik waralaba kepada penerima waralaba adalah :
a.       Identitas pemberi waralaba, berikut keterangan usaha dan neraca serta daftar untung ruginya selama minimal dua tahun terakhir.
b.      Hak atas kekayaan intelektual,yang menjadi obyek waralaba.
c.       Persyaratan yang harus dipenuhi penerima waralaba.
d.      Bantuan atau fasilitas yang ditawarkan oleh pemilik waralaba kepada penerima waralaba.
e.       Hak dan kewajiban pemilik waralaba dan penerima waralaba.
f.        Cara-cara dan syarat pengakhiran, pemutusan dan perjanjian waralaba.
g.       Hal-hal lain yang harus diketahui penerima waralaba dalam rangka melaksanakan perjanjian waralaba. (Pasal 5 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 259/MPP/Kep/7/1997 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Waralaba)

Berdasarkan PP no. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba, dinyatakan klausul yang seharusnya ada dalam kontrak waralaba adalah :
a.       Obyek waralaba
b.      Perlindungan terhadapa hak kekayaan intelektual yang menjadi obyek perjanjian
c.       Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penerima waralaba
d.      Hak dan kewaiban pemberi dan penerima waralaba
e.       Pengakhiran, pembatalan, dan perpanjangan kontrak waralaba
f.        Klausul persyaratan local content (mengutamakan barang atau produk dalam negeri)
g.       Standart mutu produk
h.       Pembinaan atau bimbingan dan pelatihan oleh pemberi kepada penerima waralaba
i.         Tempat usaha dan wilayah waralaba

Dalam Pasal 7 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 259/MPP/Kep/7/1997 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Waralaba telah ditentukan hal-hal yang harus termuat dalam perjanjian franchise atau waralaba sebagai berikut :
a.       Nama, alamat, dan tempat kedudukan masing-masing pihak.
b.      Nama dan jabatan masing-masing pihak yang berwenang menandatangani perjanjian.
c.       Nama dan jenis hak atas kekayaan intelektual, penemuan atau ciri khas usaha.
d.      Hak dan kewajiban masing-masing pihak serta bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada penerima waralaba.
e.       Wilayah pemasaran
f.        Jangka waktu perjanjian dan tata cara perpanjangan perjanjian beserta syarat-syaratnya.
g.       Cara penyelesaian persengketaan.
h.       Ketentuan-ketentuan pokok yang disepakati yang dapat menyebabkan berakhirnya perjanjian atau berakhirnya perjanjian.
i.         Ganti rugi dalam hal pemutusan perjanjian.
j.        Tata cara pembayaran imbalan.
k.      Penggunaan barang atau bahan hasil pengolahan industri dalam negeri yang dihasilkan dan dipasok oleh pengusaha kecil.
l.         Pembinaan, pelatihan dan pembimbingan kepada penerima waralaba.

Bila dilakukan identifikasi terhadap pokok-pokok materi yang terkandung dalam kontrak waralaba, dapat kita temukan klausul-klausu pokok sebagai berikut :
a.       Obyek yang di-franchise-kan.
b.      Tempat berbisnis
c.       Wilayah franchise
d.      Sewa guna
e.       Pelatihan dan bantuan teknik dari franchisor.
f.        Standart operasional
g.       Pertimbangan-pertimbangan keuangan
h.       Klausula-klausula kerahasiaan
i.         Klausula-klausula yang membatasi persaingan
j.        Pertanggungjawaban
k.      Pengiklanan dan strategi pemasaran
l.         Penetapan harga dan pembelian-pembelian
m.     Status badan usaha atau perusahaan
n.       Hak untuk menggunakan nama dan merek dagang
o.      Masa berlaku dan kemungkinan pembaharuan atau perpanjangan kontrak
p.      Pengakhiran perjanjian
q.      Penafsiran terhadap perjanjian
r.        Pilihan hukum dan forum.

Sifat perjanjian franchise adalah sebagai berikut :
a.       Suatu perjanjian dikuatkan oleh hukum (legal agreement)
b.      Memberi kemungkinan pada pewaralaba/franchisor tetap memiliki hak atas nama dagang atau merek dagang, format atau pola usaha, dan hal-hal khusus yang digunakan untuk mengembangkan usaha tersebut.
c.       Memberi kemungkinan pewaralaba atau franchisor untuk mengendalikan sistem usaha yang dilisensikan.
d.      Hak, kewajiban, dan tugas masing-masing pihak dapat diterima pewaralaba/franchisor.

Dalam seminar yang diadakan oleh IPPM ( Institut Pengembangan dan Pembinaan Manajemen), ditentukan hal-hal yang harus dimuat dalam perjanjian franchise adalah sebagai berikut :
a.       Hak yang diberikan oleh franchisor pada franchisee, yang meliputi penggunaan metode atau resep khusus, penggunaan merek dan nama dagang, jangka waktu hak tersebut dan perpanjangannya, wilayah kegiatan dan hak lain yang berhubungan dengan pembelian kebutuhan operasi bila ada.
b.      Kewajiban dari penerima waralaba (franchisee) sebagai imbalan atas hak yang diterima dan sebagai imbalan kegiatan yang dilakukan franchisor saat memulai usaha maupun selama menjadi anggota sistem waralaba.
c.       Hak yang berkaitan dengan penjualan hak waralaba kepada pihak lain, apabila penerima waralaba tidak berkenan melanjutkan sendiri usaha tersebut.
d.      Hak yang berkaitan dengan pengakhiran kesepakatan kerjasama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar