Rabu, 16 Februari 2011

BAB TENTANG RISALAH LELANG BAG 3

Lanjtuan Kuliah bag 2 yang lalu
 
Harga Penawaran, meliputi :
1.  Berapa harga penawaran dilepas.
2.  Berapa harga yang belum mencapai limit/ditahan.
3.  Uraian    proses   penawaran     dalam    hal  semula    penawaran     tertulis  dimana penawaran tertinggi belum mencapai  seperti yang dikehendaki penjual/limit dan dilanjutkan dengan penawaran secara lisan.
4.  Dalam  hal  penawaran  secara  tertulis  Pejabat  Lelang  harus  membuat  daftar penawar     untuk   mengetahui     penawaran     tertinggi.  Catatan    penawaran     ini dilampirkan pada risalah lelang.

Bagian  Badan  ini  diperbuat  pada  waktu  lelang  berlangsung  dan  ditulis dengan tulisan yang jelas.

Sedangkan     bagian   badan    dari  akta   Notaris   berisi  tentang    apa  yang ditetapkan    sebagai    ketentuan–ketentuan      yang    bersifat   otentik   itu  misalnya perjanjian.

Bagian Badan :
1.  Uraian Barang yang dilelang
2.  Identitas Pembeli
3.  Harga

Contoh Bagian Badan Risalah Lelang
Barang-         
Nama, Pekerjaan,         
Harga barang
No.   barang yang         
tempat tinggal               yang           
Keterangan
Penjualan          dijual              pembeli           
Dijual    
Ditahan

Bagian Penutup/Kaki Risalah Lelang
Bagian penutup risalah lelang, meliputi :
1.   Banyaknya barang–barang yang dilelang (tulis dengan angka dan huruf).
2.   Jumlah harga barang–barang yang terjual (tulis angka dan huruf).
3. Dalam  hal  terdapat  barang  yang  ditawar  akan tetapi  tidak     dilepas/ditahan,tulislah jumlah dari harga barang–barang yang ditahan tersebut dengan angka dan huruf.
4. Cantumkan  pada  bagian  penutup ini  juga  tentang  berapa  banyak              lampiran dalam risalah lelang.
5. Cantumkan  berapa banyak pencoretan karena  perubahan, tambahan pengurangan atau penggantian dalam pembuatan risalah lelang ini (renvoi).
6.   Tanda tangan penjual dan Pejabat Lelang (vide Pasal 38 ayat 2 VR), dalam hal yang dilelang benda tetap, pembeli ikut menandatangani risalah lelang untuk keabsahan risalah lelang seperti dimaksud Pasal 18 PP 10/1961.
7.   Dalam hal lelang eksekusi, dicantumkan ada atau tidak ada verzet pembayaran  (vide pasal 15 VR).

Untuk lebih jelas diberikan contoh bagian Penutup/Kaki Risalah Lelang
berikut ini :
Lembar terakhir dari Risalah Lelang Nomor ............... tanggal .....................
Banyaknya barang yang ditawarkan ada ..........................................................
..............................................................................................................................
Jumlah barang yang terjual Rp. .........................................................................
Jumlah barang yang ditahan Rp.........................................................................
..............................................................................................................................
.
Banyaknya lampiran Risalah Lelang ini ada ...................................................
(
...........................................................................................................................)
Diperbuat dengan
..............................................................................................................................
.
..............................................................................................................................
.

Penjual                           Pembeli                            Pejabat Lelang


Setelah    para   pemenang       lelang   telah   ditunjuk    dan   pelaksanaan      lelang selesai maka selanjutnya dilakukan penandatanganan oleh para pihak, dimulai dari pemenang       lelang/pembeli      (khusus    untuk    benda    tetap)   kemudian     penjual    dan pejabat lelang.

Dalam  hal  semua pihak  menandatangani  tidaklah  menjadi  masalah  akan tetapi ada kalanya penjual tidak mau menandatangani. Dalam hal demikian maka menurut     pasal    38  VR     (Stb.   189   tahun    1908),  jika    penjual    menolak      untuk menandatangani  ataupun  tidak  berada  di  tempat  lelang  pada  saat  risalah  lelang ditutup maka hal tersebut berlaku sebagai tanda tangan.

Untuk     lebih  jelasnya    dikutipkan     pasal   38   VR    yang   bunyinya      sebagai berikut :
”Tiap   lembar     dari  berita   acara   dengan    mengecualikan        dari  yang  terakhir, ditandatangani oleh juru lelang atau kuasanya sebagai pembenaran.

Berita  acara  ditandatangai  oleh juru  lelang  atau  yang  dikuasakan  dan  orang atas permintaan siapa dilakukan penjualan, jika ia menghendaki tidak turut tanda tangan  atau  ia  pada  waktu  penutupan  berita  acara  tidak  hadir,  tentang  hal  itu dalam berita acara disebutkan.
Penyebutan bahwa penjual tidak  menghendaki tanda tangan  atau  tidak  hadir berlaku sebagai tanda tangan penjual.

Bea materai untuk minut berita acara menjadi beban penjual.”
”Waktu risalah lelang ditutup berlaku tanda tangan dari penjual.”
Contoh :


”Risalah  lelang  ini  ditandatangani  oleh         saya  Pejabat  Lelang  dan  para  Pembeli
(dalam hal yang dilelang barang tetap), sedangkan saudara ................................
Selaku Penjual tidak bersedia menandatangani dengan alasan ...........................
....................................................................................................................................
.


Contoh :


”Risalah  lelang  ini  ditandatangani  oleh         saya  Pejabat  Lelang  dan  para  Pembeli sedangkan  Saudara  .................................................  selaku  Penjual  meninggalkan tempat/tidak hadir pada waktu risalah lelang ditutup.”


Bila diperlukan adanya pencoretan, pembetulan, penambahan dan perubahan pada risalah lelang dapat dilakukan dengan :
a.   Pencoretan dilakukan dengan garis yang tipis sehingga kata-kata yang dicoret
tersebut masih dapat dibaca.
b.   Tambahan  atau  perubahan  dilakukan  pada  bagian  pinggir  dengan  mencatat
jumlah      kata    yang     dicoret    dan    jumlah     kata    yang     ditambahkan        dan ditandatangani  oleh  pejabat  lelang  dan  penjual,  bila  dibagian  pinggir  tidak muat    dapat   dilakukan    di  bagian    bawah    sebelum     tanda   tangan   dengan menyebutkan halaman  dan baris dari yang dicoret  atau  ditambah  (vide pasal 39 VR).

Contoh catatan pinggir :
Disahkan    coretan   satu  kata  dengan  penggantian  kata  Renvoi  atau  pencoretan, penambahan  atau pembetulan tersebut hanya terdapat pada minut risalah  lelang, tidak tampak pada salinan, kutipan dan grosse risalah lelang.

Untuk  jelasnya  dikutipkan  pasal      39  Vendu  Reglement      yang  bunyinya     sebagai berikut :
”Tidak   boleh   dilakukan    perubahan    atau  tambahan     dalam   berita  acara  kecuali dipinggir    lembaran     atau  jika   disitu   tidak   ada   tempat    langsung    sebelum penandatangan  berita  acara,  dalam  hal  belakangan  dengan  menunjuk  halaman-halaman dan baris yang bersangkutan.”
Tidak boleh dilakukan pencoretan kata-kata, huruf atau angka dalam berita acara kecuali dengan coretan tipis sedemikian hingga tetap dapat dibaca apa yang dicoret,  jumlah    kata-kata,   huruf   dan  angka    yang   dicoret   ditulis  dipinggiran lembaran.

Semua    yang    karena   pasal   ini  ditulis   dipinggiran    dari  berita   acara ditandatangani oleh penandatangan dari berita acara.

PENGETIKAN RISALAH LELANG
1.  Risalah lelang diketik di atas kertas ukuran folio dengan jarak:
Dari pinggir kiri kertas 5 cm
Dari pinggir kanan kertas 1,5 cm
Dari pinggir atas kertas 5 cm
Dari pinggir bawah kertas 4 cm
2.  Pengetikan harus rapi tidak boleh ada ketik tindih maupun penghapusan.
3.  Jika terjadi kesalahan ketik, maka kata yang  salah  dibiarkan begitu  saja  dan diulang kembali mengetik dengan kata yang sebenarnya.
4.  Pencoretan atas kesalahan ketik tersebut akan dilakukan oleh pejabat lelang.
5.  Jika pengetikan  kata  terakhir  dari  suatu  baris tidak  mencapai  pinggir  kanan (huruf   a  diatas),  maka    pengetikan    diteruskan    dengan    tanda   ------- guna memenuhi baris tersebut.
6.  Bagian pertama bagian atas sebelah kanan risalah lelang dicantumkan:
”Lembar Pertama”
Pejabat Lelang
7.  Selanjutnya    tiap  lembar    bagian   atas   sebelah   kanan   risalah   lelang  harus dicantumkan lembar ke berapa dari risalah lelang  Nomor ...... tanggal .....
8.  Selanjutnya  bagian      atas  lembar   pertama  risalah     lelang  harus   dicantumkan nomor     dan  tahun   anggaran    yang    dimulai   dari  nomor     1  pada  awal   tahun anggaran dan dicantumkan tahun anggarannya.
9.  Pada  lembar  terakhir  dari  risalah  lelang  ditandatangani  penjual  dan  pejabat lelang, serta untuk barang tetap pembeli ikut menandatangani (Pasal 38 alinea 2 VR).
10. Risalah lelang harus dapat dibaca dan tanpa (kalimat ditulis dalam rangkaian yang berhubungan satu dengan yang lain sehingga mudah dimengerti).
11. Tidak  boleh  ada  ruangan  kosong,  misalnya  ada  ketikan  kalimat  yang  tidak sampai di tepi kanan maka sisanya harus digaris, begitu pula bila memerlukan satu ketikan.
12. Penulisan  angka dan  huruf, sedangkan  angka yang menyatakan  nomor  tidak perlu ditulis ulang dengan huruf.
13. Bila memerlukan  adanya pencoretan,  perubahan  atau  tambahan  pada risalah lelang dapat dilakukan dengan:
a.   Pencoretan    dilakukan    dengan    garis  yang  tipis  sehingga  kata-kata  yang dicoret tersebut masih bisa dibaca.
b.   Tambahan,  perubahan  dilakukan  pada  bagian  pinggir            (jumlah  kata-kata yang dicatat, ditandatangani oleh pejabat lelang dan penjual) bila dibagian pinggir    itu   tidak    muat     dilakukan      di   bagian     bawah      sebelum penandatanganan dengan menyebut halaman barisnya (vide Pasal 39 VR).

Perubahan     berarti   pencoretan     dari   suatu   perkataan     diganti    dengan perkataan lain.
Contoh  : disahkan coretan satu perkataan dengan gantinya. Tambahan adalah susulan     perkataan     diantara   dua    perkataan,     dan    Renvooi     (pencatatan, perubahan,     dan   tambahan     hanya   terjadi  pada    minut   risalah   lelang,  tidak tampak pada salinan, kutipan, ataupun persennya).
14. Dalam minut risalah lelang bagian atas sebelah kanan tidak perlu dicantumkan nama Pejabat Lelang, tetapi hanya ditandatangani saja. Demikian pula lembar terakhir bagian atas sebelah kanan perlu ditandatangani.

Risalah Lelang
1.  Risalah lelang diberi nomor urut per tahun anggaran.
2.  Risalah lelang harus dibuat dalam bahasa Indonesia
3.  Bagian Kepala risalah lelang dibuat oleh Pejabat Lelang sebelum pelaksanaan
lelang.
4.  Bagian Badan risalah lelang dibuat oleh Pejabat Lelang pada saat pelaksanaan
lelang dengan tulisan tangan dan/atau diketik.
5.  Bagian  Kaki risalah  lelang dibuat  oleh  Pejabat  Lelang  setelah  lelang ditutup dengan tulisan tangan atau diketik.

Penulisan kata Petikan atau Salinan dilakukan pada:
a.  halaman pertama risalah lelang, diatas kata-kata  ”risalah lelang ”; dan
b.  halaman    terakhir  risalah  lelang   pada   bagian   kanan   bawah    sebelum   tanda tangan   Kepala    KP2LN     dengan    dibubuhkan     kata-kata   ”diberikan    sebagai petikan atau salinan”.
Risalah lelang sebagaimana dimaksud diatas diberi sampul:
a.  warna  merah  muda untuk  barang  tidak  bergerak  atau  barang  tidak  bergerak yang disatukan dengan barang bergerak; dan
b.  warna kuning muda untuk barang bergerak.


PEMBETULAN KESALAHAN PEMBUATAN RISALAH LELANG
Pembetulan kesalahan pembuatan risalah lelang dilakukan dengan:
1.  Pencoretan    kesalahan   pada  kosakata,  huruf–huruf      atau  angka–agka     dalam risalah lelang harus dilakukan dengan garis lurus yang tipis sedemikian rupa, sehingga yang dicoret/digaris itu masih dapat dibaca.
2.  Penambahan/perubahan kosakata atau kalimat risalah lelang hanya dilakukan pada sebelah pinggir kiri dari halaman risalah lelang itu. Jika tidak ada tempat pada  sebelah pinggir kiri  dari kertas, maka perubahan  dapat  dilakukan pada halaman lainnya, akan tetapi pada sebelah atau dari bagian kaki risalah lelang dengan  menunjuk  halaman  dan  baris yang berhubungan  dengan  perusahaan itu.
3.  Banyaknya     perkataan,    huruf   atau  angka    yang   dicoret/digaris    itu harus diterangkan pada sebelah pinggir kertas risalah lelang itu. Begitu juga banyak perkataan/angka yang ditambahkan harus disebutkan.
4.  Segala sesuatu yang dicatat pada sebelah pinggir dari kertas risalah lelang ini dijelaskan pada penutup  risalah  lelang, berapa jumlah perubahannya itu  dan terdiri dari  berapa   coretan,  berapa   tambahan,    dan   berapa   coretan  dengan penggantiannya.
5.  Penambahan/perubahan         apapun      sesudah    risalah    lelang    ditutup   dan ditandatangani tidak boleh dilakukan.
PENANDATANGANAN RISALAH LELANG
1.   Tiap-tiap  lembar  di  sebelah  kanan  atas  dari  risalah  lelang  itu,  kecuali  yang terakhir harus ditandatangani oleh Pejabat Lelang.
2.   Tiap-tiap  coretan  perubahan,  pembetulan  kesalahan,  dan/atau  penambahan, harus   disahkan     dan    ditandatangani     oleh   Pejabat    Lelang     dan    para penandatanganan risalah lelang tersebut.
3.   Lelang barang-barang tak bergerak,  risalah  lelang harus  ditandatangani  oleh Pejabat Lelang, penjual dan Pembeli.
4.   Pejabat   lelang  dan   penjual,  khusus    untuk   barang   bergerak    pada   lembar terakhir.

5.   Jika yang minta lelang/penjual tidak mau menandatangani risalah  lelang itu, atau tidak hadir sewaktu risalah lelang ditutup, maka hal ini harus dinyatakan dalam risalah lelang itu. Pernyataan bahwa penjual tidak mau menandatangani atau  tidak  hadir  sewaktu    lelang  itu ditutup,  berlaku   sebagai  tanda  tangan penjual itu.
Apabila     Pejabat    Lelang    meninggal      dunia   sebelum     menyelesaikan pembuatan     Minut    risalah  lelang,   Kepala   KP2LN      bertanggung     jawab   untuk menyelesaikan Minut risalah lelang.
Kepala KP2LN yang bukan Pejabat Lelang menunjuk Pejabat Lelang lain untuk menyelesaikan pembuatan Minut risalah lelang.
Pejabat Lelang harus mencatat dan membubuhi tanggal dan tanda tangan pada  setiap  hal  yang  dianggap  penting pada  Bagian  Bawah  Kaki  Minut  risalah lelang yang telah ditutup antara lain:
a.  Pembeli Lelang wanprestasi;
b.  Adanya bantahan atas pembayaran uang hasil lelang; atau
c.  Pembeli  Lelang  yang  ditunjuk  oleh  bank  pemerintah  sebagai  kreditur  yang menggunakan Akta sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 ayat (2).
Dalam     hal  Pejabat    Lelang   dipindahtugaskan/meninggal         dunia,   maka pencatatan    tanggal   dan  tanda   tangan   sebagaimana     dimaksud     dalam   ayat   (1) dilakukan oleh Kepala KP2LN.


LAMPIRAN RISALAH LELANG
Setelah   risalah  lelang  ditutup  dilakukan    penjahitan   bersama    lampiran- lampirannya. Dalam hal penyimpanan, risalah lelang asli sebagai minut disimpan dan tidak boleh dibawa keluar dari KP2LN.
Lampiran risalah lelang berisi :
1.  Catatan proses penawaran lelang yang dibuat Pejabat Lelang dibubuhi tanda mengetahui/menyetujui       dan   tanda    tangan   penjual,   kemudian      dijahitkan sebagai lampiran risalah lelang.
2.  Dalam    hal  surat-surat   penawaran    tertulis  berjumlah    banyak,    maka   surat penawaran     tersebut  yang   tidak   perlu  dijahitkan   sebagai    lampiran.   Surat penawaran tersebut agar disimpan saja tersendiri di tempat lain.
3.  Surat  permintaan    lelang   beserta  salinan   surat-surat  yang   diperlukan   guna bahan   penyusunan      risalah  lelang   dan   surat   kuasa   yang    tidak  notarial dijahitkan sebagai lampiran Risalah Lenag.
4.  Tiap  surat  yang   dilampirkan    tersebut   diberi  tanda  :  Lampiran    ke ...........
risalah  lelang tanggal  ................... Nomor  ............... dan  ditandatangani  oleh
Pejabat Lelang.


CATATAN SETELAH RISALAH LELANG DITUTUP

1.  Jika ada hal prinsipil yang diketahui setelah penutupan risalah lelang, Kepala KP2LN     mencatat    hal  tersebut   pada   ruang   bawah    setelah   tanda  tangan,
diantaranya :
a.  adanya atau tidak adanya bantahan atas pembayaran harga lelang;
b.  adanya Pembeli wanprestasi;
c.  adanya bank sebagai Pembeli;
d.  adanya  pemberian  duplikat  kutipan  risalah  lelang  sebagai  pengganti  asli kutipan risalah lelang yang hilang atau rusak;
e.  adanya pemberian grosse risalah lelang atas permintaan Pembeli;
f. adanya pembatalan  risalah  lelang berdasarkan  putusan  hakim  yang  sudah
 berkekuatan hukum tetap; atau
g.  hal-hal lain yang akan ditetapkan kemudian oleh Direktur Jenderal.
2.  Sanggahan   (Verzet)  atas  pembayaran  pendapatan  lelang  yang  diterima  dari Pengadilan Negeri dicatat pada ruang bawah sesudah tanda tangan penutupan.
3.  Karena satu dan lain hal terhadap lelang yang telah dilaksanakan ada gugatan perdata,   maka    hal  ini  dicatat  pada   ruang   sebelah   bawah    tanda   tangan penutupan.
4.  Untuk setiap catatan tersebut di atas, Kepala KP2LN membubuhi tanggal dan tanda tangannya.


PENYIMPANAN DAN PENGAMBILAN RISALAH LELANG
1.  Risalah  lelang  sebagai  minut  disimpan  dan  tidak  boleh  dibawa  keluar  dari KP2LN.
2.  Risalah lelang disimpan secara teratur di tempat terkunci dan hanya diketahui oleh  yang   berkepentingan     saja, khusus   risalah  lelang   dibuat  oleh  Pejabat Lelang Kelas II dan disimpan oleh yang bersangkutan.
3.  Jangka waktu simpan minut risalah lelang selama 30 (tiga puluh) tahun.
4.  Peminjaman/pengambilan  risalah  lelang  dari  lemari  penyimpanan  dilakukan dengan bon/buku pinjaman yang disediakan untuk itu.
5.  Risalah   lelang  asli sesuai  pasal  65  dan   66  Undang-undang  Pebendaharaan Indonesia  No.    448   tahun   1925  tidak  dapat   disita kecuali   ijin Mahkamah Agung.
Minut risalah lelang disimpan pada KP2LN secara rapi dan teratur dengan nomor berurutan sesuai dengan bulan dan tahun anggaran.
Minut risalah lelang tidak dapat:
a.  digandakan;
b.  dikeluarkan,    kecuali   atas  ijin Kepala    KP2LN     untuk   pembuktian     dimana KP2LN sebagai pihak tergugat/saksi;dan
c.  disita kecuali dengan ijin Mahkamah Agung, sesuai dengan ketetentuan dalam Pasal 65 dan 66 Undang-undang Perbendaharaan Indonesia.


ASLI MINUT, SALINAN DAN KUTIPAN
Minut
Minut  risalah   lelang  adalah   asli  risalah lelang  yang  terdiri  dari  bagian kepala,  badan,   dan   kaki  risalah  lelang  lengkap    dengan   lampiran-lampirannya ditandatangani  oleh  Pejabat  Lelang pada  saat penutupan pelaksanaan  lelang  dan dibuat paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah pelaksanaan lelang;
Asli   risalah   atau   minut   risalah   lelang   berikut   lampirannya     dijahit sedemikian  rupa  sehingga  tidak  terlepas  dari  ikatannya  dan  dijilid.  asli  risalah lelang  berikut  lampiran-lampiran  dan  minut  Risalah  ini  tidak  boleh  keluar  dari kantor (dibuat hanya satu).

Salinan
1.   Salinan  risalah  lelang  adalah  turunan  dari  keseluruhan  risalah  lelang  yang diberikan kepada penjual dan kepada superintenden sebagai laporan.
2.   Salinan risalah lelang hanya diberikan atas permintaan yang berkepentingan.
3.   Setiap salinan yang diberikan dicatat nama dan alamat pemohon, tanggal, dan tanda  tangan   dari  Pejabat  Lelang    yang  mengeluarkan      salinan  pada  ruang bawah sesudah tanda tangan penutup pada minut risalah lelang.
4.   Atas  salinan  yang  dibuat  sebagai grosse  disebut  pada mulanya  ”Atas nama
keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
5.   Atas pemberian grosse ini dibuat catatan seperti angka 2 diatas.
6.   Penertiban fotokopi asli risalah lelang sebagai salinan tidak diperkenankan.
7.   Salinan/kutipan     risalah   lelang   barang    tetap   disampaikan      ke   Kantor Pendaftaran Tanah.
Kutipan
Kutipan risalah lelang adalah turunan risalah lelang yang diberikan kepada pembeli  yang  memuat  bagian  kepala, badan  yang  khusus  menyangkut  pembeli bersangkutan dan kaki. Kutipan ini diberikan kepada pembeli (vide pasal 42 alinea 3 VR).

Grosse atas Permintaan Pembeli
KP2LN       wajib   memberikan       grosse    risalah   lelang.   Grosse    adalah salinan/kutipan yang dibuat dalam bentuk eksekutorial titel ialah pada bagian atas salinan tersebut  dimuat kata-kata “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (vide pasal 42 VR jo pasal  14 VI) dan  di bagian bawah  dibubuhkan perkataan “diberikan grosse pertama” atas permintaan Pembeli atau kuasanya.
Menurut pasal 440 Recht Fordering salinan akta otentik yang diberi irah-irah  tersebut  mempunyai  kekuatan       eksekutorial   seperti  keputusan  hakim  yang telah mempunyai kekuatan hukum pasti.

Selanjutnya   pasal   440   ayat   2  Recht   Fordering    tersebut   menyatakan bahwa :
‘Gubernur    Jenderal  mempunyai  wewenang  bila         dipandang  perlu    untuk memberlakukan ketentuan ini terhadap akta”.

Pasal  435  Recht Fordering  menyatakan  bahwa   “Grosse  dan  vonis  yang ditentukan di Indonesia dapat dilaksanakan di wilayah itu “

Bagaimana dengan grosse risalah lelang seperti dimaksud pasal 42 VR jo pasal  440  ayat  2  Recht  Fordering  yang  menyatakan  bahwa  Gubernur  Jenderal dapat  memperlakukan  ketentuan-ketentuan  grosse  tersebut  pada  akta-akta  lain, dalam pelaksanaannya antara lain terhadap  Vendu Reglement yaitu dalam pasal 42 VR    oleh    karenanya    grosse    risalah   lelang   mempunyai       eksekutorial    title (mempunyai kekuatan eksekutorial).

Selanjutnya  pada  bagian  penutup  harus  diberikan  grosse  Petama  karena permintaan grosse kedua dan selanjutnya tidak dapat dimintakan langsung kepada penyimpan/pejabat umum yang menyimpan minut dari risalah lelang, akan tetapi permintaan     tersebut  harus    diajukan   kepada    Pengadilan    Negeri,    selanjutnya pengadilan    tersebut  memerintahkan      kepada  penyimpan      minut   untuk   diberikan grosse   yang  kedua,  untuk  jelasnya     dikutip  bunyi   pasal   856  Recht   Vordering sebagai berikut :
“Pihak (partij) yang   menghendaki grosse atau selanjutnya  harus mengajukan permohonan  kepada pengadilan  yang diwilayahnya penyimpan  dari minutnya     bertempat tinggal,  pengadilan itu  dengan surat  perintah kepada penyimpan memerintahkan untuk   mengeluarkan grosse ...dst”.

Keterangan:
1.  Minut risalah lelang dibuat dan  ditandatangani Pejabat Lelang diatas meterai cukup.
2.  Salinan dan kutipan risalah lelang dibuat oleh Seksi Dokumentasi dan Potensi Lelang/Seksi Lelang dan ditandatangani Kepala KP2LN.
3.  Kutipan    risalah  lelang  ditandatangani    oleh  Kepala    KP2LN     diatas  meterai cukup.
4.  Bea meterai untuk Minut risalah lelang dibebankan kepada penjual.
5.  Bea  meterai  untuk  Kutipan  risalah  lelang/Grosse  risalah  lelang  dibebankan kepada Pembeli.
6.  Bea   meterai    untuk   Salinan   risalah   lelang  kedua,    ketiga,  dan   seterusnya dibebankan kepada penjual.
7.  Jangka waktu penyelesaian risalah lelang paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja
setelah pelaksanaan lelang.
8.  Kutipan    risalah   lelang   tanah   atau   tanah   dan   bangunan,     jangka    waktu penyelesaian     selambat-lambatnya       6   (enam)    hari   kerja   setelah   Pembeli menunjukkan  bukti  setor  pelunasan  Bea Perolehan  Hak  atas Tanah  dan/atau Bangunan.



RANGKUMAN
Risalah  lelang  adalah  berita  acara  mengenai  suatu  peristiwa  resmi  dan kedinasan  yang disusun  secara teratur  dimaksudkan untuk  mempunyai kekuatan bukti tertulis bilamana diperlukan sewaktu–waktu. Berita acara ini ditandatangani oleh pihak–pihak yang bersangkutan.

Risalah  lelang  adalah  laporan  mengenai jalannya  suatu  pertemuan  yang disusun   secara   teratur  dan   dipertanggungjawabkan        oleh  si  pembuat    dan/atau pertemuan      itu  sendiri,   sehingga    mengikat      sebagai    dokumen      resmi   dari kejadian/peristiwa yang disebutkan didalamnya.

Fungsi   risalah  lelang   adalah   sebagai   akta   otentik.  Risalah   lelang   itu mempunyai tiga macam kekuatan pembuktian yaitu:
1.  kekuatan pembuktian lahir;
2.  kekuatan pembuktian formal; dan
3.  kekuatan pembuktian material.
Risalah lelang terdiri dari :
1.  Kepala risalah lelang
2.  Badan risalah lelang
Bagian Badan risalah lelang tercantum:
a.   identitas pembeli;
b.   perincian barang;
c.   harga jual atau ditahan.
3.  Kaki risalah lelang, berisi:
a.   banyaknya barang–barang yang ditawarkan;
b.  jumlah harga barang–barang yang terjual (tulis angka dan huruf);
c.  jumlah harga barang–barang yang ditahan (tulis angka dan huruf);
d.   banyaknya lampiran risalah lelang;
e.   diperbuat dengan..........coretan..............tambahan;
f.   tanda tangan penjual dan Pejabat Lelang (vide Pasal 38 ayat 2 VR), dalam hal yang dilelang benda tetap, pembeli ikut menandatangani risalah lelang untuk  keabsahan  risalah  lelang  seperti  dimaksud  Pasal  18 PP  10 /  1961; dan
g.  dalam    hal   lelang   eksekusi,    dicantumkan      ada   atau   tidak   ada   verzet pembayaran (vide Pasal 15 VR).

Bila   memerlukan      adanya    pencoretan,     perubahan     atau   tambahan     pada risalah lelang dapat dilakukan dengan:
1.  Pencoretan dilakukan dengan garis yang tipis sehingga kata-kata yang dicoret tersebut masih bisa dibaca.
2.   Tambahan, perubahan  dilakukan pada bagian pinggir  (jumlah kata-kata yang dicatat, ditandatangani oleh Pejabat Lelang dan penjual) bila dibagian pinggir itu  tidak muat  dilakukan  di bagian bawah  sebelum penandatanganan  dengan menyebut halaman barisnya (vide Pasal 39 VR). Perubahan berarti pencoretan dari suatu perkataan diganti dengan perkataan lain.

Tiap-tiap lembar disebelah kanan atas dari risalah lelang itu, kecuali yang terakhir  harus  ditandatangani  oleh  Pejabat  Lelang. Tiap-tiap  coretan  perubahan, pembetulan kesalahan, dan/atau penambahan, harus  disahkan  dan  ditandatangani oleh  Pejabat  Lelang  dan  para  penandatanganan  risalah  lelang  tersebut.  Lelang barang-barang      tak  bergerak,    risalah  lelang   harus   ditandatangani     oleh   Pejabat Lelang,  penjual     dan  oleh   Pembeli.  Pejabat     Lelang  dan  penjual,  khusus  untuk barang bergerak pada lembar terakhir. Jika yang minta lelang/penjual tidak mau menandatangani risalah lelang itu, atau tidak hadir sewaktu risalah lelang ditutup, maka hal ini harus dinyatakan dalam risalah lelang itu. Pernyataan bahwa penjual tidak  mau  menandatangani  atau  tidak  hadir  sewaktu  lelang  itu  ditutup,  berlaku sebagai tanda tangan penjual itu.

Pejabat  lelang harus  mencatat  dan  membubuhi tanggal  dan  tanda tangan pada  setiap  hal  yang  dianggap  penting pada  Bagian  Bawah  Kaki  Minut  risalah lelang yang telah ditutup antara lain:
1.  Pembeli lelang wanprestasi;
2.  Adanya bantahan atas pembayaran uang hasil lelang; atau
3.  Pembeli  lelang  yang  ditunjuk        oleh  bank  pemerintah      sebagai  kreditur  yang menggunakan Akta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2).

Lampiran risalah lelang
1.   Catatan proses penawaran lelang yang dibuat Pejabat Lelang dibubuhi ”tanda
mengetahui/menyetujui          dan   tanda    tangan    penjual”    kemudian      dijahitkan sebagai lampiran risalah lelang.
2.  Dalam     hal   surat-surat   penawaran      tertulis  berjumlah    banyak,    maka     surat penawaran      tersebut   yang    tidak   perlu   dijahitkan    sebagai   lampiran.    Surat penawaran tersebut agar disimpan saja tersendiri di tempat lain.
3.   Surat permintaan lelang beserta salinan surat-surat yang diperlukan
4.   Tiap surat yang dilampirkan tersebut diberi tanda : Lampiran ke ........... risalah lelang tanggal  ................... Nomor  ............... dan  ditandatangani oleh Pejabat Lelang.
Jika  ada  hal  prinsipil  yang    diketahui    setelah  penutupan     risalah   lelang, Kepala KP2LN mencatat hal tersebut pada ruang bawah setelah tanda tangan.

Bentuk risalah lelang, meliputi:
1.  Asli risalah lelang;
2.  Salinan;
3.  Kutipan;
4.  Kutipan; dan
5.  Grosse atas Permintaan Pembeli.
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar